Psst... Jangan Ada Sampah Makanan di Antara Kita

4/09/2021 07:37:00 am

Konten [Tampil]
Saya penasaran deh, kenapa ya ada orang yang makannya masih gak habis? Padahal, yang ambil porsinya kita sendiri, kita juga yang menakar cukupnya seberapa, kan? Kok masih juga gak habis. Udah gitu, disisainnya kayak cuma 1-2 suap doang. Yaampun geregetannn.... soalnya bagi saya tuh 2 suap itu masih bisa masuk ke mulut loh, ya kalau udah kekenyangan banget sih saya bakal stop sebentar terus lanjut abisin. Daripada malah disisain terus kebuang. Beda kalau kondisinya lagi gak sehat, gak nafsu makan, pasti akan berat banget ngabisin makanannya karena gak mau makan tapi ya memang tetap harus makan. Itu pun sebenarnya masih bisa diakali, kok. Ya, ambil nasi dan lauknya dikit banget aja. Yang penting perutnya keisi, lalu bisa minum obat, dan gak takut mual karena kekenyangan. Jadi, perkara isi piring yang kebuang itu mencerminkan bagaimana kita bisa mengontrol diri sendiri. Cara kita mengontrol seberapa banyak, seberapa cukup, dan seberapa mampu kita menghabiskan isi piring tanpa ada sisa yang terbuang, cuma kita yang tahu. Itu adalah tanggung jawab kita masing-masing terhadap apa yang kita kasih ke tubuh, juga berpengaruh terhadap bumi.

https://widyasty.com

Yes, kalau makanan sisa akhirnya kebuang, ya yang rusak bumi juga, dong? Sampah makanan satu orang dalam sehari aja bisa jadi banyak kalau setiap hari kita melakukan hal yang sama. Artinya kita belum punya control system terhadap kebutuhan kita sendiri. Lalu, diakumulasi selama seminggu, sebulan, bahkan setahun. Belum lagi sampah makanan yang dihasilkan dari restoran, katering, perjamuan arisan, resepsi pernikahan, dan acara besar lainnya. Belum lagi ditambah sampah makanan satu RT, satu kelurahan, satu provinsi. Pantas saja kalau Indonesia bisa menduduki peringkat kedua penghasil sampah makanan terbesar di dunia. Jika dikutip dari artikel di website Bandung Food Smart City, setiap orang di Indonesia bisa menyumbang sampah makanan sebanyak sekitar 300kg selama setahun. Ajegile! Itu banyak bangettt. 

Yang bikin lebih dilema, masih ada banyak banget wilayah di Indonesia yang mengalami krisis pangan. Anak-anak mengalami stunting, kurang gizi, dan bahkan gizi buruk, karena kekurangan asupan makanan yang baik. Padahal, 300kg sampah makanan tadi bisa untuk makan berapa ratus/ribu orang coba? Harusnya kita bisa mulai melek sama isu ini, karena ini termasuk isu global, gak hanya Indonesia yang mengalaminya. Tapi, walaupun hal ini terjadi di banyak negara, bukanlah alasan kita untuk gak memperbaiki diri, kan? Justru, kalau kita bisa mengurangi, kenapa nggak? Emang gak takut tuh liat TPA-TPA udah pada penuh dan gak cukup lagi buat menampung sampah kita semua? Apalagi sampah makanan yang digabung dengan sampah non-organik lainnya tuh bisa memicu gas beracun yang berbahaya. Masih ingat kan, kasus meledak dan longsor di beberapa TPA di Indonesia? Bayangin deh kalau gak ada lagi tempat kita buat buang sampah, mau dibuang ke mana lagi? Sedangkan lingkungan bumi yang tercemar sampah tuh gak hanya lingkungan darat aja, tapi air di sungai dan bahkan laut juga udah mulai tercemar sampah juga, loh. Huhuhu bumikuuu...

https://bandungfoodsmartcity.org/

Saya pribadi juga belum benar-benar bisa sepenuhnya menerapkan hidup bebas sampah makanan. Tapi, saya setidaknya belajar untuk tidak membuang sampah makanan agar tidak mubazir. Gemesss aja gitu sama makanan yang akhirnya kebuang karena gak dimakan. Contoh paling nyata yang hampir selalu setiap hari terjadi di depan mata saya adalah nasi kering. Mana bisa ya kita makan lagi? Mentok-mentok kasih ke ayam deh, atau ya buang tempat sampah. Siapa yang mau makan nasi kering? Kenapa, sih, kok bisa sampai ada nasi kering? Yap. Karena kita masih kurang pintar mengelola nasi. Apalagi ini termasuk bahan pokok warga Indonesia, yang wajib dan harus ada setiap hari. Gak makan kalau gak pakai nasi, katanya. Tapi, malah nasi yang paling sering kebuang. Pasti masalah ini juga banyak dialami orang lain dalam kesehariannya. Ngaku deehh, bener kaaan? Hahaha. Saya sering kasih masukan ke Ibu mertua saya, kalau masak nasi baru, setelah matang, nasi sisa yang lama ikut dicampur lagi aja ke dalam rice cooker, supaya gak keburu kering dan kebuang. Meski kadang Beliau masih sering kelupaan, tiap saya yang kebagian masak nasi baru, ketika matang pasti akan langsung saya campur dengan nasi lama karena bagi saya masih layak banget untuk dimakan. Nasi itu hanya perlu segera dihangatkan supaya gak keburu kering dan adem. Apalagi melihat kebiasaan orang rumah yang lebih doyan nasi hangat daripada nasi yang udah adem. Mereka cenderung akan ambil nasi yang baru matang untuk dimakan, padahal nasi yang lama masih layak makan, tapi karena udah adem jadi gak ada yang nyentuh deh. Kasihan si nasiii. 

Akhirnya karena isu itu udah jadi perhatian saya sejak lama, saya harus punya inisiatif untuk mengubah kelola makanan tersebut di rumah ini. Dari hal sederhana itu, akhirnya bisa kita temukan solusinya, yang bisa kita lakukan sama-sama. Nah, semenjak punya rice cooker yang ukurannya kecil di sini (kalau gak salah kado nikah adik ipar saya), akhirnya saya juga sering ngide untuk masukin nasi lama ke rice cooker kecil dulu sebentar, sembari memasak nasi baru. Kalau sudah matang bisa dicampur lagi dan rice cooker kecilnya dimatiin deh. Jadi gak ada yang namanya nasi lama jadi adem atau kering karena dibiarin di luar rice cooker kelamaan. Orang rumah pun bisa tetap makan semua nasi yang ada karena semua masih hangat dan layak makan.

Duh, ini baru perkara nasi, loh. Belum lauk dan sayurnya. Kalau dalam pembahasan ilmu gizi, saya memang kurang paham bagaimana kandungan gizi dalam masakan matang yang dimasukkan ke kulkas lalu dihangatkan kembali. Tapi, setuju atau tidak, itu adalah cara yang paling sering kita temui dalam rumah tangga. Yakan? Baik Ibu saya atau mertua juga melakukan hal itu soalnya. Nah, ada hal menarik dari cara Ibu saya dalam mengelola lauk. Kalau ada sisa lauk yang belum kemakan, biasanya Beliau masak ulang dan dicampur dengan lauk lain, atau ditambah bahan baru, yang kemudian malah jadi menghasilkan masakan baru. Surprisingly, tetap enak! Jadi, dari dulu gak pernah ada yang namanya buang lauk sisa. Saya gak pernah lihat Ibu saya membuang sisa lauk, atau dibiarkan sampai basi lalu kebuang. Beliau selalu punya cara untuk mengkreasikan masakan itu supaya gak kebuang dan justru malah dihabiskan. Di rumah mertua, hal tersebut pun diadaptasi. Lauk yang hari ini gak habis akan dimasukkan ke kulkas, besok dihangatkan kembali, dan masak masakan baru juga sebagai tambahannya jika perlu.

Saya gak paham apakah ini cara yang tepat, tapi setidaknya bisa mengurangi sumbangan sampah makanan rumah tangga. Opsi lain yang ada di benak saya dan sejauh ini sudah saya terapkan pelan-pelan di rumah tangga saya adalah:

  1. Masak secukupnya. Kalau anggota keluarga hanya 3 orang seperti saya, ya masaknya sedikit aja buat satu hari makan. Ini biasanya proses trial & error-nya bisa berhari-hari atau minggu sambil meraba porsi lauk yang pas. Gak kurang, gak kebanyakan. 
  2. Kalau masaknya kebanyakan, ada baiknya kasih ke tetangga juga. Itung-itung berbagi, sekalian kasih icip masakannya. Siapa tau enak dan banyak yang suka, jadi bisa jualan lauk juga deh, hehe. Tapi yang ini belum pernah saya coba sih karena masaknya selalu dalam porsi dikit hihi. 
  3. Terapkan foodprep, sehingga bisa memangkas waktu masak lauk untuk satu kali makan bersama keluarga. Jadi dalam satu hari bisa makan lauk beragam dan gak sama/bikin bosan. Biasanya kalau sudah disiapkan dalam bentuk foodprep, masaknya jadi lebih mudah dan cepat. Semisal punya bumbu dasar merah, pagi bisa dibuat sarapan nasi goreng, siang lauk balado, sore/malam sayur berkuah.
Contoh list weekly menu yang saya buat


Ngomong-ngomong soal foodprep, saya juga akhir-akhir ini sedang belajar rutin melakukannya, nih. Dulu pernah banget niat sampai beli banyak food storage, lalu ketimpa musibah malas sampai akhirnya gak pernah lagi dilakukan. Memang agak kacau akhirnya karena bahan makanan jadi gak terorganisir dengan baik. Nah, semenjak udah mulai masak untuk keluarga sendiri, saya mulai terapkan lagi foodprep demi bisa bebas sampah makanan dan menerapkan gaya hidup minim sampah. Jadi, semua bahan makanan mentah yang saya beli tidak akan terbuang karena semua sudah diatur jumlahnya agar bisa dimasak untuk seminggu ke depan. Foodprep juga bisa memudahkan ketika masak, karena semua bahan (mulai dari sayuran, daging, dan bumbu) sudah disiapkan dan dipisahkan sesuai porsi masakan, jadi tinggal cemplung-cemplung dan kasih bumbu deh di kompor. Biasanya, yang saya beli dalam jumlah banyak itu adalah bumbu-bumbu dasar, seperti cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, dan bawang bombay. Untuk sayur dan lauk pauk, saya membuat list masakan dulu per minggu, jadi saya hanya akan membeli sayur yang sesuai dengan kebutuhan. Ini dibuat supaya meminimalisir sayur yang membusuk/layu sebelum digunakan, lalu berakhir menjadi sampah. 

Contoh foodprep, sumber: Buzzfeed di Pinterest


Nah, kalau cara kalian kelola sampah makanan tuh gimana? Saya butuh ide nih supaya bisa lebih mantap ngurus sampah di rumah. Jadi, kita juga bisa pelan-pelan menjaga bumi dari banyaknya sampah yang dihasilkan rumah tangga. Duh, kalau ngomongin sampah memang gak ada habisnya. Ini aja baru sampah makanan, belum lagi sampah non-organik, sampah elektronik, dan sampah-sampah lainnya. Kita masih perlu banyak bebenah diri nih, teman-teman. Hihi.

Oiya, saya juga pernah share tulisan dengan tema pengupayaan gaya hidup less waste, tentang penggunaan menspad saat menstruasi agar tidak menghasilkan sampah pembalut sekali pakai. Ada juga tulisan tentang proses toilet training kepada anak, salah satunya adalah dengan menggunakan clodi dan training pants untuk bebas dari sampah popok sekali pakai. Silakan dibaca ya kalau tertarik! 😊

You Might Also Like

10 comments

  1. kalau aku ya amsak secukupnya , dan membiasakan anak harus ambil maakn sedikit dulu, kalau kurang baru nambah dan harus habis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anakku keseringannya justru gak abis karena susah banget makannya. Padahal diambilinnya porsi dikit banget. Alhasil mamaknya yang jadi tong sampah ngabisin sisa makanannya 🤣

      Delete
  2. Intinya dimulai dari diri sendiri ya. Kalo nasi kemarin biasanya diolah jadi nasi goreng,atau dipanasin pake panci jadi gak buang-buang nasi. Sedih juga buang nasi kalo udah gak bisa diolah juga huhu. Habis gimana lagi kadang suka dikasih nasi berkat dari teman, tetangga jadi nasi di rumah nggak kemakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya nih bener, Kak. Nasi berkat itu gak diduga-diga kan. Padahal udah masak nasi banyak eh masih dapet nasi berkat. Dibikin jadi nasi goreng enak jugaa, serumah pada doyan banget nasi goreng hihi.

      Delete
  3. Aku tipe yang mempersiapkan mau masak apa dalam kurun waktu tertentu, masak pun secukupnya. Rasanya enak aja, kalo bisa memaksimalkan yang dibeli, biar gak kebuang. Jadi rindu berbagi makanan ke tetangga yang dulu sering banget dilakuin.. sekarang udah jarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya bikin plan menu buat berapa hari kak? Aku mentok semingguu soalnya suka bingung mau bikin apa lg hahaha

      Delete
  4. Biasanya, saya masak nasi seperlunya aja mbaa. Beli beras kan pake duit, bukan pake daun. Jadi, gak boleh mubazir penggunaanya.
    Sama seperti yang mbak tulis, di rumah kalo ada nasi sisa suka dicampur lagi sih Ama nasi baru. Sayang kalo dibuang hehe





    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa aku juga sedih banget kalo sampe buang nasi terus, makanya harus pinter2 ngakalin ya kakk biar gak sampe ada yang kebuaang :)

      Delete
  5. Wah..pembahasan yg menarik ini mba.. dulu pernah dengar kebiasaan yang bikin geleng kepala..yaitu kebiasaan untuk menyisakan nasi minimal satu sendok..Waktu ditanya alasannya, katanya gengsi dan malu aja..Takut dikira kelaparan atau rakus.. hiks..ada2 aja ya..

    Oiya, sedikit sharing, kalau saya di rumah, biasanya nasi kering itu saya tambah air lagi lalu panaskan dan tunggu airnya mengering. Nasinya akan akan kembali enak.. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah... itu tradisi mana ya, Kak? Tapi aku kalau gak salah inget juga pernah denger sih kalau makan di resto gitu gak diabisin takut dikira rakus hahaha padahal justru makan di resto kalau gak abis ya cuma bisa dibuang huhu.

      Aku baru denger nih idenya. Airnya sedikit aja cuma basahin nasi apa kerendem gitu, Kak? Boleh nih dicoba kapan-kapan hehe. Makasih loh buat idenyaa 😉

      Delete

Thank you for meeting me here! Hope you'll be back soon and let's connect each other 😉