Parenting & Family: Toilet Training (Part 1/3)

3/22/2021 02:18:00 am

Konten [Tampil]
Hadeh, fase ini susah banget dilewatinnyaaaa, paling lama dan paling butuh banyak ekstra kesabarannn!

Eh, wah, hallooo! Maaf banget pembuka catatan kali ini jadi terdengar seperti keluhan, huhu. Walaupun sebenarnya memang seberat itu bagi saya, tapi banyak loh ibu-ibu lain yang bisa lebih mudah dan cepat melewati fase ini. Yaa, beda anak, beda cara didik, beda juga kebutuhan dan kemampuan dalam menjalani berbagai fase pertumbuhan anak. Gapapaaa, namanya juga anak-anak, mereka sangat unpredictable wkwk 🤣 Biandul bisa jadi pintar dalam satu hal, tapi sangat sulit di hal lain. Begitu pula di anak lainnya, jadi meski sering dibanding-bandingin sama orang, yauda lah diemin aja soalnya capek dengerinnya hehe. Anak kita adalah apa yang kita bentuk, bukan apa kata orang lain 😉

Sooo, let's start talking about how I teach my kid to do toilet training. Artinya adalah anak kita udah saatnya dipercaya untuk lepas popok, belajar pipis dan pup di toilet/kamar mandi, dan tidak mengompol. Ets, tiga hal ini juga jadi urutan untuk saya terapkan ke Biandul. Yaps, bertahap ya, Mams! Biar gak capek dan pusyiiing wkwk. Soalnya gak mungkin juga kan kita ajarin ke anak hal yang harus buru-buru ia kuasai tanpa pernah tahu bagaimana prosesnya supaya bisa berhasil sampai tujuan. Jadi, anak harus tahu dulu bedanya pakai popok dan hanya celana dalam. Harus tahu rasanya mengompol dan air pipisnya membasahi seluruh kaki dan lantai rumah. Harus tahu bahwa air pipis itu bau, kotor, dan harus segera dibersihkan. Harus tahu bahwa tempat untuk pipis dan pup adalah di toilet/kamar mandi, bukan di kasur atau bagian rumah lainnya. Harus tahu bahwa mengompol itu akan membuat kasur menjadi basah dan bau. Satu fase ini saja butuh banyak pelajaran yang harus dikuasai sama anak, jadi jangan terlalu nge-push anak untuk buru-buru bisa ya. Perlahan selalu kasih pemahaman, sabar, sabar, dan sabar. Hufff. Refill sabar tuh di mana sih yaaa, pengen boroooong aja rasanya 😌




BELAJAR LEPAS POSPAK

Dimulai saat Biandul hampir menginjak dua tahun, saya berencana untuk memulai toilet training lebih dulu sebelum menyapih. Saya pikir perjalanannya hanya akan membutuhkan waktu beberapa bulan. Jadilah saya mulai mengajari Biandul untuk tidak pakai popok lagi. Nah, hal pertama yang saya ajarkan ke Biandul adalah lepas pospak. Tapi, bukan berarti langsung lepas nih. Saya beralih dulu pakai clodi, tapi ternyata gak nyaman karena terlalu tebal pas dipakai di anak, terus karena bahannya tebal banget kan jadi susah kering waktu dijemur, jadi masih selang-seling pakai pospak lagi deh. Waktu itu, saya juga lagi berusaha untuk kurangin sampah pospak, ceritanya baru melek tentang isu limbah rumah tangga, jadilah saya beli clodi. Nah, karena harganya mahal, jadi saya cuma beli tiga cover clodi plus lima insert. Nah, insert ini yang akan menyerap air pipis layaknya pospak (popok sekali pakai). Rencananya sih nyicil aja dulu ya, nanti beli lagi tambahan kalau memang dirasa kurang. Eh, ternyata merek yang saya beli tuh bahan insert-nya terlalu kaku dan susah keringnya, jadilah saya sering ganti pakai pospak lagi kalau pas kehabisan insert bersih. Udah gitu, pas dipakai ke Biandul kok kayak tebaaal banget gitu, jalannya jadi agak ngangkang dan keliatan berat dipakainya. Anaknya sih main ya tetap pecicilan ya, tapi ternyata experience mamaknya yang tidak puas wkwk. Lalu malas lagi untuk explore coba beli merek lain, karena mahal harganya dan takut nyesel lagi. Duh, rencana mau belajar less waste eh tapi kemampuan saya masih cupu ternyata wkwk.

Ini adalah contoh gambar clodi, bentuknya persis seperti pospak, tapi berbahan kain. (Sumber image: sustaination.id)


Setelah kapok pakai clodi, saya cari lah training pants. Konsepnya mirip seperti clodi, menyerap air pipis supaya gak langsung ngalir ke bawah dan membanjiri lantai rumah layaknya pakai celana dalam doang, tapi bentuknya lebih praktis karena seperti celana dalam biasa aja, bedanya bahannya lebih tebal, tapi gak setebal dan seribet pakai clodi. Nah, suka nih saya. Harganya lumayan murah, jadi bisa langsung borong beberapa, pas coba ternyata beneran bisa menyerappp. Tapi, training pants ini gak difungsikan sebagai pengganti popok ya, karena tidak bisa menampung air pipis lebih dari tiga kali. Tujuan menggunakan training pants ini adalah untuk memberi pemahaman ke anak bahwa ketika anak pipis di celana, ada rasa gak nyaman karena basah dan lembap, sehingga mereka akan minta ganti celana. Lalu, kita bisa selipkan pesan iklan berikut, "Nah, kalau gak mau celananya basah, nanti kalau udah ada rasa mau pipis langsung bilang Mama ya, kita buru-buru ke toilet terus pipis di sana. Jadi nanti celananya gak basah/kotor deh."

Ini salah satu contoh gambar training pants. Di bagian bawahnya ada lapisan penyerap air pipis yang agak tebal, tapi selebihnya berbahan kain biasa seperti celana dalam. Jadi, gak terlalu tebal saat dipakaikan ke anak. (Sumber image: salah satu toko di AliExpress)


Ets, jangan harap sekali ngomong langsung berhasil. Tentu tidak, Bunda. Butuh berhari-hari untuk bisa memberi pemahaman ini ke anak. Karena ada beberapa hal yang mungkin anak harus sadari terlebih dahulu:
  1. Anak harus tahu bagaimana tanda-tanda mau pipis.
  2. Anak harus belajar menahan pipis sebentar sampai ia masuk ke toilet. Karena di tahap awal, pasti ia akan kesusahan menahan, jadi biasanya ia akan pipis dulu baru bilang. Kita jangan marahin ya, nanti anaknya jadi takut bilang pipis.
Lalu, bagaimana cara meminimalisir drama ngompol di celana ini?
  1. Kita sebagai Mama harus sangat peka terhadap waktu pipis anak. Hapalin deh tuh jam-jam biasanya anak akan pipis. Kalau udah minum susu/air putih banyak, 10-15 menit kemudian ajak pipis ke toilet sebelum keburu pipis di celana, walaupun anaknya belum bilang mau pipis.
  2. Biasanya, di tahap awal saya ajak Biandul pipis ke toilet setiap 2-3 jam sekali. Ya, kadang kelupaan sih kalau lagi asik bebenah, atau nemenin Biandul main. Lalu, lama-lama jadi 3-4 jam sekali. Sampai akhirnya Biandul paham dan mulai ngajak le toilet duluan sebelum pipis di celana.
  3. Ajak anak nonton/baca buku tentang toilet training. Buanyaaaak banget, tinggal dongengin aja deh setiap hari pakai kata-kata yang dibuat hiperbola tapi meyakinkan dan mudah dicerna.
  4. Kalau anak udah ada kemajuan, misal bisa bilang pipis atau ngajak pipis duluan, beri ia reward sederhana supaya ia tahu bahwa kemajuannya itu sangat berarti besar buat ia dan orangtuanya ☺️ misalnya: kalau udah bisa ngajak pipis di toilet, berarti nanti sore mandinya boleh bawa mainan kesukaan, atau habis mandi boleh bebas pilih baju yang mau dipakai, atau akan diajak main ke playground taman.
Kuncinya adalah satu: saat memulai toilet training, sudah terlihat kesiapan pada anak dan Mama. Bukan hanya Mama doang atau anak doang. Kalau anak udah bisa bilang pipis, berarti anak udah bisa dan siap diajarkan pipis itu apa, dan di mana tempat yang tepat untuk pipis. Nah, ketika anak sudah siap, tapi mental Mama belum siap, ya jangan mulai dulu. Siapin mental sematang mungkin, karena fase ini akan diikuti dengan kerjaan rumah Mama yang semakin padat (karena harus sering nyuci celana anak dan ngepel lantai yang kena ompol) dan mental yang terkikis (kalau belum siap).

Saya sendiri di awal memulai toilet training agak pede, karena punya target timeline sendiri: bahwa anak harus sudah lulus toilet training sebelum disapih. Saya mau keduanya dijalani satu per satu, tidak berbarengan, karena kepala saya bisa pecah sih kayaknya kalau dijalanin berbarengan wkwk. Eh ternyata, proses ini butuh waktu yang panjang dan saya belum siap. Biandul pun ternyata belum. Jadi, proses ini saya hentikan, saya kembali pakai pospak, dan mulai menyapih dulu ketika anak sudah merayakan ulang tahun yang kedua. Proses menyapih justru malah memakan waktu yang singkat dan mudah, gak disangka! Karena saya kira proses menyapih ini akan sangat sulit karena saya juga berat harus menghentikan kegiatan menyusui dengan Biandul, huhu.

Untuk yang mau membaca proses saya menyapih Biandul, boleh baca di sini ya.

Setelah proses menyapih selesai, saya menunggu waktu 1-2 bulan hingga saya merasa siap lagi secara mental. Dan, mulailah saya menerapkan strategi baru. Masih dengan pakai training pants, saya hanya memakaikan Biandul pospak di malam hari saat tidur saja. Siangnya, karena lebih mudah bagi saya mengontrol waktu pipis, saya pakai training pants. Saya mulai cerewet mengajak Biandul ke toilet setiap 1-2 jam. Berjalan dengan baik? Tentu saja tidak 🤣🤣
Perjalanan tahap kedua akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya, ya. Pastinya akan lebih seru karena dramanya semakin banyakk lol! Tenang, buibuk. Perjalanan ini kita lalui bersamaaa kok. Jadi jangan sedih jangan stres sendiri ya. Nanti ada saatnya mereka bisa melakukan semua hal sendiri, dan kita akan bangga. Because we made it! I teach them to do all these things! Yayyy! 🤣

See you at the next part! 😉

You Might Also Like

2 comments

  1. Waaahhhhh.. Luar biasa.
    emang susah2 gampang ya bund ngajarin anak mandiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di aku susah bangettt. Tapi karena tantangan ini, jadi pas udah sampai di tujuan tuh lega dan bahagiaaaa banget, karena usaha yang kemarin2 tuh membuahkan hasil jg hihi

      Delete

Thank you for meeting me here! Hope you'll be back soon and let's connect each other 😉