Drama Pertemanan Anak, Apa yang Harus Orangtua Lakukan?

6/10/2022 04:12:00 pm

Konten [Tampil]
"Ayo ambil mainan kamu, bawa sini. Kalau gak mau, yaudah kita gak usah main bareng lagi."

Dari kalimat sekilas, kita tahu betul bahwa kata-kata itu kurang enak didengar, apalagi dari anak-anak. Di samping itu, sadar gak sih, Mom, kalau ada pesan mengancam yang tersembunyi dari kalimat itu? Nah, gimana kalau anak kita malah terbiasa mendengar kalimat ancaman serupa di kesehariannya? Drama pertemanan ini mungkin banget kejadian lho saat anak sudah memasuki fase bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Saya akui, jujur, saya masih sering banget kelepasan ngomong sama Biandul dengan nada mengancam begitu, meskipun sebenarnya yang saya maksud adalah memberi tahu tentang konsekuensi dan sebab-akibat. Dua hal ini berbeda, tapi sering banget terkecoh saat diaplikasikan sehari-hari. Apalagi kalau udah kadung emosi, huh mana sempat tuh mikir sebelum berucap. Benar-benar deh parenting tuh tricky banget. Merasa paling paham padahal masih sering keliru. Nah, kuncinya memang ada di kontrol diri kita, dan kemauan untuk belajar mengendalikan emosi, juga kemampuan berkomunikasi dengan anak-anak.

Misalnya:
  • Mode mengancam: "Kalau kamu gak mau tidur, besok gak boleh main!"
  • Mode edukasi: "Nak, kalau kamu gak mau tidur dan kurang istirahat, nanti kamu jadi sakit. Kalau kamu sakit, Mama gak bolehin kamu main sama teman-teman, lho. Karena orang sakit itu gak punya tenaga untuk main, jadi cuma bisa tiduran doang di dalam kamar."
Kelihatan kan ya bedanya? Iya, tapi niat awal mau edukasi sebab-akibat, malah berakhir mengancam karena anaknya susah dibujuk dan kita kepancing emosi, hahaha. Wis biyasaaaa! 😂

https://widyasty.com

Balik lagi ke kalimat di awal tulisan ini, emang itu omongan dari siapa sih?
Dari teman mainnya Biandul di rumah. Kebetulan banget saya dengar sendiri malah. Jadi, memang langsung saya tanggapi karena ini berurusan dengan anak saya. Pas dengar anak saya diancam sama teman mainnya kayak gitu, rasanya darah langsung naik ke atas kepala semua, terus mendidih ngebul. Bayangin aja, kalau dari kecil anak saya terbiasa dengar ancaman kayak gitu kalau main sama temannya. Bisa-bisa dia jadi korban bullying, kalau gak berani melawan. Atau, lebih parahnya lagi, dia yang akan terbiasa mengancam teman lainnya dan berisiko menjadi pem-bully. Haduh, pusing mamak.

Sebelumnya, Biandul memang sering bawa mainannya sendiri dari rumah. Kadang, mereka juga suka main di dalam rumah. Mungkin, anak-anak yang lain suka sama mainan Biandul, jadi mau pinjam lagi. Tapi, memang cara mereka meminjam itu gak tepat aja sih. Ya, namanya juga anak orang. Kita mana bisa kontrol sikap-sikapnya, yakan? Nah, ketika main di rumah, kadang semua mainan juga diberantakin. Kalau udah bosan, mereka pergi gitu aja tanpa mau beresin bareng-bareng. Jadi saya yang spaneng, akhirnya gak ngebolehin lagi mereka main di dalam rumah, setelah sebelumnya pernah coba ngomong baik-baik untuk beresin lagi semua mainan sebelum pulang, tapi gak mempan dan gak ngaruh. Setelah gak saya bolehin main di dalam rumah lagi, ternyata mereka malah jadi sering nyuruh-nyuruh Biandul bawa mainan dari rumah untuk dimainin di luar.

Awalnya, saya perhatikan sambil diam. Mencoba maklum karena ya mungkin anak-anak mau saling pinjam mainan. Tapi, kalau dilihat dari respon Biandul, sepertinya anak ini gak nyaman disuruh-suruh, tapi tetap masih mau main sama mereka. Jadi, mau gak mau nurut aja tuh disuruh. Terakhir kali, saya dengar sendiri kalimat ancaman itu, Biandul ternyata gak berani menolak atau melawan. Jadi, dia pulang dengan wajah cemberut sambil minta izin bawa mainannya keluar.

Saya, yang agak gak rela, tahu anak saya disuruh-suruh mulu sama temannya, berusaha mencari cara paling bijak, meskipun lebih merasa berat sebelah karena mau membela anak saya. Sejujurnya, saya gak mau mengajarkan anak untuk pelit dan tidak berbagi mainan, tapi di sisi lain, saya juga butuh mendidik anak saya untuk gak selalu menuruti apa yang disuruh  temannya. Saya takut banget kalau dibiarkan, anak saya lama-lama terbiasa untuk gak membentuk mode pertahanan dan jadi korban bully oleh temannya.

Jadi, apa yang saya lakukan?


MEMBERI PENGERTIAN KE ANAK

Sebelum saya mengurusi anak orang lain, saya lebih memilih untuk fokus ke anak saya sendiri. Saya mulai sering kasih pengertian, bahwa gak apa-apa menolak meminjamkan mainan bila gak mau. Gak apa-apa kalau gak diajak main lagi, karena masih bisa main sama teman yang lain, atau main di rumah sama Mama, Ayah, Tante, Om, Uti, dan Kakung. Kita semua akan selalu ada untuk menemani dia bermain. Kita akan dengan senang hati menemani dia bermain di taman atau playground supaya bisa bertemu dengan teman sebayanya yang lain.

Gak lupa juga, kita validasi perasaan dan mengenalkan emosi. Saya bisa bilang bahwa kalimat itu merupakan sebuah ancaman, dan saya gak mau anak saya terbiasa diancam saat bermain, atau dia mulai meniru kalimat ancaman tersebut ketika berkomunikasi dengan keluarganya. Saya selalu bilang, "Kalau diancam teman, dan kamu gak nyaman, jangan takut untuk melawan." Saya juga sering bertanya apa perasaannya ketika mendengar temannya mengancam seperti itu. Dia jawab, "Nanti dia gak mau main lagi sama Bian, kalau Bian gak ambil mainan." Lalu, saya balas, "Gak apa-apa, Bian. Lebih baik kamu bermain dengan teman yang saling menghargai, bukan cuma menyuruh atau mengancam aja. Teman Bian kan gak cuma satu aja."


MENGAJARKAN ANAK CARA BERKOMUNIKASI YANG BAIK

Saya merasa Biandul perlu diajarkan cara melawan, tapi bukan dalam konteks kasar atau keras. Saya berharap dia bisa mempertahankan dirinya ketika berada dalam keadaan yang gak nyaman. Jadi, ketika temannya mengucapkan sesuatu yang gak baik, dia tahu dan paham untuk gak ikut-ikutan, justru malah membalas dengan hal yang benar.

Misalnya, ketika temannya meminjam mainannya dan ternyata gak dibalikin (sering banget kejadian), saya minta Biandul untuk ke rumahnya dan meminta mainannya kembali dengan sopan. Ketika temannya mengancam seperti kalimat di awal tulisan tadi, dia bisa menjawab, "Maaf ya Bian gak mau bawa mainan ke luar rumah, kita main yang lain aja ya di luar." Kalau temannya gak mau, yaudah saya suruh Biandul pulang aja dan main sendiri di rumah.

Meskipun beberapa kali saya bilang kalau sikap temannya itu sering gak baik untuk dicontoh, kadang besoknya pun dia masih tetap mau main bareng. Anak-anak emang masih pure banget ya perasaannya, gak ada rasa dendam, gak pilih-pilih teman, yang penting mereka senang-senang bareng. Nah, tugas orangtua yang harus tetap memantau pergaulannya, supaya gak semua sifat temannya itu kebawa dan diikuti, karena ada juga yang perlu dihindari.


AJAK ANAK BERCERITA SETIAP HARI

Sebenarnya poin ini justru yang paling penting. Anak harus terbiasa berbagi cerita ke orangtua, supaya kita bisa tetap tahu apa aja yang dia lakukan sama teman-temannya di luar rumah. Kan gak selamanya kita bisa kontrol anak terus, karena ada saatnya dia punya dunianya sendiri di luar rumah. Nah, untuk hal ini, saya senang banget karena tanpa ditanya pun Biandul sering cerita ke saya di rumah.


Yang bikin mengejutkan, ternyata ceritanya Biandul sering bikin shock hahaha. Pas lagi main, teman-temannya nonton YouTube, ternyata isi tontonannya mengerikan banget dan gak seharusnya ditonton anak-anak. Saya langsung bilang, "Nak, itu gak seharusnya dilihat anak-anak, lho. Lain kali, kalau kamu main tapi teman-teman malah nonton hp, kamu pulang aja ya. Nonton hp di rumah aja sama Mama, karena Mama bisa pilihin tontonan yang bagus buat anak-anak seumuran kamu."

Lain hari lagi, Biandul cerita kalau dia main bawa sepeda, tapi sepedanya dipakai temannya keliling dan dia malah lari-larian ngejar sepedanya. Sekilas, dari sudut pandang anak mungkin itu menyenangkan ya bisa lari-larian, tapi dari sudut pandang saya malah mikir, kenapa anak saya gak bisa ambil keputusan buat dirinya sendiri, atau anak saya gak berani ngomong karena takut gak punya teman.

Masih ada banyak cerita yang sering diceritakan anak saya, dan selalu saya sisipkan tentang apa yang harusnya dilakukan. Selalu bertanya apa yang dirasakan, dan selalu mengajarkan bahwa gak semua hal yang temannya lakukan itu boleh ditiru. Saya sadar, bahwa hal ini gak bisa langsung berhasil dilakukan, karena butuh komunikasi intens untuk beri paham ke anak apa yang baik dan tidak baik. Meskipun dilema, kadang gak mau membiarkan Biandul main sama temannya lagi karena khawatir, tapi kadang kasihan juga kalau seumur dia gak ada kesempatan main. Saya juga sedang belajar menjadi orangtua yang fleksibel dan gak terlalu mengekang anak, tapi ternyata susah juga yaa hahaha.



TETAP PERHATIKAN PERKEMBANGAN ANAK

Tiga tahun pertama, anak memang sepenuhnya under parent's control, makanya kita juga lebih leluasa mengatur kegiatan dan jadwal anak. Tapi, kita gak bisa selamanya mengontrol hidup anak, karena ada masanya mereka akan lebih senang main di luar rumah. Mereka akan merasa sangat senang ketika bisa bertemu dan bermain bersama teman-teman. Dan kita, sebagai orangtua, gak bisa secara sepihak mengatur lagi sepenuhnya. Tapi, kita tetap bisa memperhatikan perkembangan anak, karena sedikit banyak akan kelihatan pengaruh dari luar.

Apakah anak tiba-tiba sering tantrum, atau sering bicara kasar, atau selalu memaksakan kehendaknya, atau malah terlihat sering murung? Setiap hari, usahakan selalu ada sesi tukar cerita, dan jangan lupa validasi perasaannya. Kalau saya pribadi, gak pernah bosan mengajarkan ke Biandul bahwa dia harus belajar jadi anak pemberani dan mampu melawan kalau dibutuhkan, semisal kayak cerita tadi ketika Biandul diancam gak diajak main, atau kalau mainannya justru malah dipakai orang lain dan dia sendiri malah cuma bisa pasrah.

Saat menulis ini, ternyata di grup Whatsapp Mommies Daily juga membagikan artikel tentang topik yang berhubungan, yaitu Tanda Pertemanan Tidak Sehat Pada Anak. Boleh banget nih dibaca supaya lebih paham tentang segala macam drama yang mungkin terjadi saat anak sudah mulai memasuki masa sosialisasinya dengan teman sebaya. Saya juga masih banyak baca dan cari tahu, supaya paham harus bertindak yang bijak.


Kalau Moms semua, punya tips khusus gak menghadapi drama pertemanan anak usia 4-5 tahun ini? Yuk boleh share di komentar, atau share tulisan ini ke Mommies lain yang mungkin sedang dalam fase yang sama. Pusing bareng-bareng, tapi sambil belajar bareng-bareng juga. Karena belajar menjadi orangtua yang bijak itu perjalanannya seumur hidup. Setuju? 😉

Oiya, kalau ada teman anak yang sering bikin drama kurang menyenangkan gini, enaknya gimana ya? Tetap biarin anak main bareng atau gak dibolehin main lagi sama sekali?

You Might Also Like

30 comments

  1. Dalam setiap sosialisasi, anak pasti menghadapi berbagai suasana tidak menyenangkan. Pastikan anak sudah dibekali dengan cara (how to) menghadapi hal yang tidak menyenangkan itu. Tidak perlu kasar, tapi ada cara yang ampuh untuk menghindari anak anak toxic.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener ini penting banget sih! Share dong Mbak kalau punya tips-nya hehe

      Delete
  2. Mengajarkan pada anak tentang harus belajar jadi anak pemberani dan mampu melawan kalau dibutuhkan itu memang sangat Penting ya mbak agar anak Kita nggak jadi kalahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa aku takut banget anakku di-bully huhu, terus gak bisa ngelawan. Padahal orangtuanya gak pernah takut ngelawan orang kalau kita merasa benar

      Delete
  3. Bicara ilmu parenting emang susah-susah gampang ya mba..sebagai orangtua kita dituntut untuk selalu belajar dan upgrade ilmu terus. dan saya juga ngalamin banget kadang kalo udah emosi ucapan yang keluar suka diluar kontrol hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susahhhh banget kadang ngerem untuk gak ngomel huhu, takut malah jd contoh buruk dan dia ngikutin kita suka ngomel juga

      Delete
  4. Kalau kata psikolog yang kutemui, orangtua harusnya jadi wasit saja ketika menghadapi pertemanan maupun konflik antar-anak. Yang penting masih aman. Kalau tidak dilibatkan sebaiknya memantau saja supaya anak-anak belajar bersosialisi dan menghadapi konflik sejak usia dini

    ReplyDelete
  5. anak saya nomor 2 yang sering bikin drama karena anaknya gak bisa diem
    pernah tanpa sengaja mendorong temannya hingga si anak terkena papan tulis dan berdarah
    untunglah bukan luka parah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduuu kita jadi ikutan ngerasa bersalah deh pasti. Anak tetangga juga pernah jarinya kejepit pintu pas anakku tutup pintu. Berdarah dan biru lebam gt, aku yang minta maaf mulu saking gak enak, padahal ya memang gak sengaja

      Delete
  6. Artikel yang sangat informatif. Bener banget kak, namanya drama anak itu nggak kalah rumit sama urusan orang dewasa. Memang betul parenting itu tricky banget ya, soalnya gak semua buku parenting mengakomodasi masalah pola asuh yang kita alami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, kadang baca buku parenting aja gak cukup soalnya suka beda situasi masing-masing kan ya huhu

      Delete
  7. Baca tulisan ini menggelitik saya. Karena kebetulan pas banget sama umur anak saya. Dan mulai mengalami polemik yang sama, drama pertemanan. Hehe, kalau aku sama suami kita suka ngajak anak2 ngobrol dulu maunya gimana terus tahu punishmentnya apa kalau ternyata mereka yang salah. Masih banyak banget peer kita bersama anak2. Thank u sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak. Aku juga sering diskusi sama suami karena masalah begini gak bisa diatasi sendirian

      Delete
  8. Walau banyak drama, pertemanan antar anak itu tetap harus terjalin biar anak kita terbentuk gak kuper gitu. Sebagai orangtua harus ambil peran untuk mengawasinya saat mereka main*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus diawasi banget Kak, tapi gak terlalu ikut campur juga

      Delete
  9. Haha iya emang parenting tuh tricky banget ya Mbak, salah salah bukannya edukasi malah ancaman huhu.

    Ada banget drama pertemanan ala anakku apalagi soal tiru meniru duh sebagai ortu harus aware tiap anak main sama temennya. Ga bener bener ditinggal gitu aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku pernah juga meniru kata kasar dari temannya, aku reflek marah karena kaget, kok ngomong begitu sih 🥲

      Delete
  10. Treatment ya kak Widya tentang parenting ini jadi ilmu banget buat daku, apalagi yang momen mendengarkan cerita mereka. meski saat ini mantau latihannya ke keponakan hehe.

    ReplyDelete
  11. Haduuh drama anak2 ini ya memang menggemaskan banget, tinggal pinter2 kita orang tua untuk menanganinya jangan sampe melarang apalagi memarahin.
    Dunia pertemanan anak mah kalo emang berantem, suka cepet akur lagi. Asalkan ortunya ga ikut campur dan baper.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, sekarang marahan nanti sore main bareng lagi hahaha

      Delete
  12. Baca ini jadi belajar ilmu parenting. Bekal buat nanti kalau beneran jadi parents nih...

    ReplyDelete
  13. Aku biasanya suka ingetin aja sih Mom, ga sampe negur ke ortunya. Krna anak ku usianya paling kecil di komplek, malah dia ga mau main keluar. Sukanya main drumah sama emaknya, heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih bisa mantau ya Mbak kalau main di rumah aja haha. Anakku umur 3 tahun juga masih sering di rumah aja, tapi pas udah 4 tahun udah deh bener-bener jarang di rumah haha

      Delete
  14. Saat anak mulai belajar sosialisasi dengan orang lain, memang akan bertemu dengan banyak drama ya. Tapi apa terus dilarang main? Kalau aku biasanya bikin beberapa zona; merah, kuning dan hijau.

    Teman-teman di zona hijau adalah temen yang boleh diajak main, bisa diajak ke rumah, atau boleh juga main ke rumahnya. Sementara beberapa orang yang berada di zona kuning, boleh main sama mereka tapi mending main di luar atau diajak ke rumah aja. Sementara untuk yang masuk zona merah, biasanya saya larang bermain dengannya secara intens, kalau secara berkelompok sih boleh-boleh saja.

    Biasanya yang masuk zona merah, yang karakternya sulit diatur, ucapannya kasar dan dinasehati pun nggak mempan. Sementara orang tuanya juga nggak ikut memantau saat main, ataupun nggak mau tahu dengan perilaku anaknya saat di luar.

    Untungnya anak-anak paham sih dengan siapa saja bisa berteman. Dan meski ada larangan, tetep harus respek sama temen2nya. Sekaligus juga mengenalkan anak bahwa di luar sana ada banyak karakter berbeda, yang bisa jadi beberapa di antaranya nggak cocok dengan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh makasih buat tips-nya, Mbak. Aku jadi nambah nih cara bersikap dengan teman anakku. Bisa aku diskusikan juga sama suami

      Delete
  15. Ajarkan anak bercerita itu penting banget ya. Dulu anakku aku sering ajarkan ini juga, soalnya ngeri pernah di bully juga, supaya bisa diajarkan bertahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, harus diajari terbuka sama orangtua biar gak takut cerita kalo diapa-apain sama orang di luar rumah

      Delete

Thank you for meeting me here! Hope you'll be back soon and let's connect each other 😉