Personal Opinions: Masalah Pernikahan yang Paling Sering Dikeluhkan

22:38

Mertua gue bawel banget, semua hal diomongin, dikomentarin, selalu ulang-ulang omongan yang udah pernah didenger.

Suami gue tuh berat sebelah banget, kasih uang ke orangtuanya mulu, padahal ke orangtua gue jarang.

Itu sepupu aku kemarin nikah ngutang, ternyata istrinya gak dikasih tahu, lho!

Kemarin si A nikah ngutang ke temannya, eh ternyata mereka rentenir. Sekarang mau ngutang lagi ke saudara-saudara buat bayar ke rentenir itu. Tahu gitu, kenapa kemarin gak bilang aja sih ke saudara sendiri, biar gak ribet. Mana istrinya udah mau melahirkan, biaya makin butuh banyak.

Mertua gue tuh ngandelin suami gue mulu, mereka anggap suami gue tuh aset masa tua mereka yang harus selalu nafkahin mereka. Padahal masih cukup kuat untuk cari uang sendiri.



Beberapa teman dan keluarga pernah curhat tentang kehidupan pernikahan mereka ke saya, ternyata topiknya memang gak pernah jauh-jauh. Dua hal yang paling sering saya dengar tentang keluhan teman dan keluarga ketika sudah memasuki kehidupan rumah tangga: masalah keuangan dan hubungan dengan mertua. Kenapa mereka cerita ke saya? Apa karena kehidupan saya lancar-lancar aja? Oh, tentu tidak! Saya juga masih kesulitan nabung dan beberapa kali gagal pindah rumah karena masalah keuangan. Kalau tentang hubungan dengan mertua, sejauh ini memang baik-baik saja, tapi bukan berarti gak ada masalah. Gak kelihatan aja, mungkin. Karena memang gak pernah besar masalahnya. Ya, kalau intervensi dikit-dikit sih pasti ada, ya. Namanya juga orangtua, beda generasi pula sama kita. Mereka mengklaim pengalamannya lebih banyak dan merasa wajib memberi kita wejangan hidup, meskipun ternyata akan ada banyak perbedaan pendapat, karena banyak faktor juga, sih.

Karena curhatan itu lumayan sering saya dengar, saya jadi pengin bahas satu per satu deh. Ya, anggap aja supaya bisa jadi pengingat kita semua, bahwa kehidupan rumah tangga tuh memang gak seindah cinta-cintaan halal doang, dan bisa juga jadi peringatan ke orang-orang yang baru akan merencanakan pernikahan supaya bisa lebih matang lagi persiapan dan keyakinannya. 




MERTUA VS MENANTU 

Beuh! Kurang horror apa nih subjudul yang dipakai! Hahaha. Tapi ya, percaya gak percaya, suka gak suka, sepakat gak sepakat, memang ini adalah salah satu sumber masalah yang paaaaaling sering dihadapi. Masalah memilih suami/istri mungkin akan lebih mudah meyakinkan diri ya, karena sebelum menikah kita udah melalui masa pengenalan, pendekatan, pemahaman, apalagi berantem-berantem gemes yang katanya bisa bikin makin lengket... yaa, cukup lah ya kayaknya buat ngeyakinin diri kalau dia nih yang akan jadi jodoh kita nih. Eh, pas udah nikah... waduh, gimana nih kalau sampai harus tinggal sama mertua? Atau tinggalnya dekat rumah mertua, atau tinggal di rumah orangtua sendiri dan takut pasangan yang malah gak ngerasa cocok? Ya, wajar. Namanya juga yang tadinya orang asing, tiba-tiba jadi keluarga. Pasti akan beda rasanya dengan yang udah dari bayi tinggal serumah dan diasuh sampai besar dan bisa mandiri. Kebiasaannya pun beda, pemikirannya apalagi. Ada banget orangtua yang masih kolot dan percaya mitos-mitos jaman dulu, ada yang udah fleksibel dan open-minded tapi bawel banget, ada yang masih posesif sama anak padahal udah nikah, ada yang harus terpaksa masih bergantung sama anaknya karena masa tuanya gak punya aset/dana pensiun. Permasalahan ini emang udah paling umum banget. Bahkan, beberapa teman saya ada yang pisah karena bermasalah sama mertuanya. Huhu, sedih sih, tapi kan memang kita gak bisa kontrol orang lain. 

Nah, kalau kebetulan kamu ngerasa dapat mertua yang gak asik, kaku banget, bawel banget, atau adaaaa aja yang bikin gak nyaman... coba dipikir-pikir lagi. Itu udah nyimpen rasa sebelnya berapa lama? Kalau kelamaan memang bakal jadi beban, berat, bahkan hal sepele aja bisa jadi masalah besar. Padahal seharusnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kadang ada yang gak suka dibawelin, jadi kebawa sebel terus-menerus sampai akhirnya gak sadar bahwa mertuanya itu peduli banget, tapi caranya gak sesuai sama yang kita harapkan. Kita gak suka dibawelin, tapi mereka bawel. Ya, kan, gak ada yang salah ya? Kadang ada yang gak suka karena mertuanya kolot, ya mungkin karena akses informasi mereka terhadap ilmu parenting jaman sekarang terbatas, atau malah gaptek. Kalau kita yang bisa kasih edukasi dan mereka bisa paham, malah jadi bagus deh ada bahan diskusi. Kalau mereka gak bisa terima dan tetap masih percaya sama ilmu jaman dulu, ya gapapa. Tarik napas, healing dulu sama diri sendiri, yang penting udah usaha. Pola pikir orang lain gak bisa kita kontrol, jadi lepasin aja bebannya sampai situ. Anggap aja ya kita memang beda pola pikir, tapi urusan anak dan keluarga tetap pegang teguh sama apa yang kita yakini tepat. Kalau mertuanya ternyata gak bisa hidup sendiri dan masih bergantung sama pasangan kita, udah deh emang gak bisa apa-apa lagi selain bantu. Generasi sandwich tuh memang masih banyak terjadi. Yang bisa kita usahakan adalah gimana caranya supaya anak kita nanti saat dewasa gak meneruskan generasi sandwich itu, maka kita harus bisa mandiri saat tua nanti.


Kalau bisa sih ya, masalah sama mertua itu jangan sampai jadi masalah utama yang menyebabkan keretakan rumah tangga. Karena sejujurnya, rumah tangga itu isi intinya hanya suami, istri, dan anak-anak. Mertua, orangtua, saudara lainnya, adalah pelengkap keluarga yang seharusnya bisa kita jaga kerukunannya. Meskipun gak jarang juga ada yang udah gak bisa terima lagi karena masalah dengan mertua terlalu rumit dan gak bisa diperbaiki lagi, mohon maaf banget kalau itu semua di luar pemahaman saya, karena tiap rumah tangga kan memang beda pola pikir untuk memecahkan masalah dan menjaga hubungan ya. Itu sebabnya sejak awal menikah, kita harus utamakan pola pikir dengan pasangan itu dipastikan sejalan tentang apapun; tentang konsep harta, rumah impian, jumlah anak yang direncanakan, cara mendidik anak, jenis sekolah anak, dan rencana masa tua. Semua itu jaaaauh lebih penting disepakati di awal sebelum pernikahan berlangsung. 


MASALAH KEUANGAN 

Hayoloooh, ini juga gak kalah serem, nih. Waktu masih single, uang habis buat nyenengin diri sendiri sih enak aja ya. Seminggu sebelum gajian merintih makan seadanya dan gak bisa hangout juga gak masalah. Tapiii, kalau udah nikah, semua itu akan sangat amat jauh berbeda untuk dijalanin. Siapa yang pegang uang, semua pemasukan mau ditaruh di rekening yang mana, tabungannya pilih apa, simpan investasi di mana aja, semua butuh kesepakatan berdua. Jangan sampai nih ya, amit-amit, punya utang dan gak jujur sama pasangan. Bakal ribet deh dijalaninnya, beneran. Kalau pas pacaran bohong sih mungkin masih bisa ya diakalin. Tapi, kalau udah nikah? Asli, capek banget. Daripada capek bohong kan mending capek jagain tabungan sama-sama. Karena hubungan yang diawali dengan kebohongan itu susah banget dijalaninnya. Kayak ada beban beraaat banget yang dipikul salah satunya, eh yang satunya lagi gak tau apa-apa, tapi nanti kalau udah kesandung dan jatuh banget, bakal ikut kena juga tuh ngerasain sakitnya. Padahal kemarin dia gak tau apa-apa, huhu kasihaaan. 

Pengeluaran rumah tangga juga gak cuma sebatas belanja bulanan dan jajan lucu aja, jangan lupa juga sama jatah orangtua. Nah, pembagian ini nih yang sering jadi kerikil gak keliatan. Tau-tau udah kesandung aja. Idealnya sih, pengeluaran ke orangtua dan mertua itu adil, atau mungkin dilebihkan untuk salah satu pihak, kalau kita masih tinggal bersama mereka. Sebut aja itu uang belanja, dan untuk bantu beli kebutuhan rumah yang masih kita gunakan sama-sama, misalnya tabung gas, listrik, galon, sabun cuci, minyak goreng, dan bumbu-bumbu masak. Tapi, lagi-lagi, harus sesuai kesepakatan ya nominalnya. Di luar itu, kalau ternyata salah satunya ada yang diam-diam nambahin jatah bulanan, ya harus diskusi lagi sama pasangannya. Kebutuhannya untuk apa? Urgent atau gak? Bisa ditunda atau gak? Ini sifatnya pinjaman atau sukarela? Suami/istri harus tahu rinciannya, supaya fair. Supaya gak ada salah satu pihak yang merasa dibohongi. Ya, namanya kesepakatan itu memang perlu tanggung jawab besar. Di luar itu, harus ada diskusi tambahan lagi supaya cash flow gak rusak. Kecuali suami/istri punya pekerjaan sampingan masing-masing yang hasilnya bisa dihabiskan untuk kasih orangtua masing-masing, tanpa merusak cash flow bulanan yang udah disepakati, itu kayaknya juga bisa jadi jalan tengah yang fair menurut saya. 

Saya sendiri dulu pernah ada di posisi jadi generasi sandwich. Saya anak tunggal dan orangtua saya bercerai. Bingung banget apakah saya mampu menafkahi ibu saya saat anak saya udah lahir nanti dengan gaji yang masih segini aja? Ternyata, kekhawatiran itu dijawab sama Tuhan, ibu saya menikah lagi dengan calon suaminya. Seketika merasa beban saya runtuh sebagian, karena merasa terbantu untuk membagikan tanggung jawab itu ke bapak sambung saya. Meskipun begitu, saya tetap memberikan rejeki bulanan semampu saya. Setidaknya, gak seberat dan sebesar dulu waktu ibu saya belum menikah lagi. Lalu, saya harus resign dari pekerjaan saya dan memilih untuk menjadi fulltime mom. Dengan begitu, suami saya yang menjadi satu-satunya pencari nafkah. Kami berdua harus bijak menggunakan uang supaya gak kehabisan.


Saya dan suami sempat mengalami frustasi ketika sadar bahwa dua tahun berturut-turut kami gagal menabung untuk membangun rumah. Rencana itu terus menerus mundur karena uang yang kami kumpulkan tidak pernah cukup. Kami gagal menabung, gagal mengatur keuangan, dan kami masih harus terus berusaha lebih keras lagi. Daripada berdebat siapa yang salah dan benar, kami lebih merasa harus saling bantu lebih banyak lagi agar bisa menekan pengeluaran yang gak penting, supaya kami bisa segera menunaikan cita-cita kami, dan gak menunda lebih lama lagi karena pengalaman gagal ini terus berulang. 

Baru saja tadi siang suami saya bilang, "Bukan mentang-mentang aku yang cari uang, jadi aku merasa paling benar. Bukan mentang-mentang kamu cuma di rumah, jadi aku salahin kamu karena gak bisa jagain uang kita. Pengeluaran kita adalah tanggung jawab kita berdua, bukan cuma salah satunya aja. Jadi, kesalahan itu ya kesalahan kita berdua juga. Daripada harus mencari siapa yang salah dan benar, ya lebih baik kita rencanain lebih matang lagi aja daripada yang kemarin." Uwuuuuu, hampir aja nih gak ketahan air mata haru, bisa-bisanya keluar kata-kata manis kayak gitu dari orang yang sama sekali gak pernah romantis ke istrinya, malah lebih sering annoying hahaha. Saya yakin, dia juga gak sadar tuh kalau omongan dia sebenarnya kedengeran manis banget.

Sekarang, tabungan kami memang masih belum mencapai target, tapi setidaknya, kami sudah mulai berhasil menabung sedikit-sedikit. Kami mulai belajar memiliki investasi, belajar punya aset lain di luar tabungan rekening, dan semua itu masih berproses karena masih sering gagal menahan nafsu untuk jajan. Belum lagi pengeluaran untuk alat elektronik di rumah yang rusak dan maintenance aset kantor suami yang harganya lumayan bikin pusing, hahaha. Kadang harus pinjam dari rekening tabungan dan sisihin lagi dikit-dikit ketika suami udah dapat projek baru. It's okay. Berproses bersama itu lebih indah, bukan merasa tanggung jawab sendiri-sendiri. Begitu pula dengan pekerjaan domestik yang gak selalu jadi tanggung jawab istri, karena suami juga bisa bantu-bantu. Kalau istri senang, pasti suami juga ikutan bangga. 

Masalah rumah tangga apa lagi yang paling sering bikin debat dan jadi beban buat kamu? Yuk coba share dan kasih tau tips-nya juga supaya kita bisa saling belajar. Buat yang belum menikah, bisa banget nih jadi bahan diskusi sama calon suami/istri, bukan malah jadi tambah takut menikah karena kedengeran banyak masalah. Menikah atau gak, masalah itu pasti bakal datang ke kehidupan kita kok. Hehehehe. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya!

You Might Also Like

34 comments

  1. Salam kenal kak Asty
    Sepakat sekali, keluarga adalah tempat kita ditempa dengan dinamika (atau masalah) yang luar biasa.
    for me, just enjoy it and take what she is and her family of course

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Kak Yonal. Makasih yaa udah baca tulisanku :) yap, memang tantangannya banyak banget ya, Kak. Tapi bahagianya menikah juga gak kalah banyak kok, hihi. Yang penting sebelum ngejalanin harus bener2 siap dulu sama semua risiko dan tanggung jawabnya.

      Delete
  2. Wahh bener banget masalahnya pasti kalau gak keuangan ya dengan mertua, tapi syukurnya hubungan dengan mertua tetap aman-aman saja.. Akan tetapi soal keuangan ini yang agak sulit apalagi masa pandemi ini yang membuat pekerjaan dialihkan dari offline ke online. Jadi tidak maksimal, karena kebutuhan kerja ada di offline semua dan harus dikerjakan offline.. Yang penting tetap smngt lah, disyukuri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Kak Andrie :) makasih yaaa udah mampir hehe. Bener, Kakk. Selama pandemi nih masalah finansial emang jadi masalah utama banget. Terus jadi merembet ke hal-hal lain. Kalau gak kuat2 banget siasatinnya, ya bakal nyerah ujung2nya. Semangat ya, Kak! :)

      Delete
  3. Halo mba, salam kenal ya.
    Anw aku udah baca, dan bener banget apa yg dimention diatas, dan aku paling sering bermasalah dgn mertua, sampe bosan, hahaa...
    Apalagi aku termasuk generasi sandwich.
    Yang terpenting sekarang gimana caranya anak²ku gak seperti itu nantinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Olinee, maksih ya udah mampir :)

      Semangat yukk. Semoga rejekinya terus dilancarkan dan ditambahkan yaa. Biar cukup buat semua kebutuhan hihi. Salam kenal! 😊

      Delete
  4. Halo, Kak Asty. Salam kenal.
    Aku setuju nih. Walaupun belum menikah tapi lingkunganku sudah menikah semua mayoritas. Sehari-hari pasti dicurhatin, apalagi sama kakak. Jadi pelajaran banget sebelum nikah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Kak. Bener banget, belajar dari pengalaman orang yang lebih dulu ngalamin kadang bisa jadi "shortcut" buat kita. Jadi bisa lebih hati-hati ketika memutuskan menikah dengan pasangan. Dia orang yang benar2 cocok dengan kita atau gak? 😊

      Delete
  5. Adik aku suka curhat mba tentang mertuanya. Soalnya dia tinggal ama mertuanya. Karena suaminya anak bungsu dan laki-laki satu-satunya. Jadi aja tinggal bareng. Padahal di kelilingi itu banyak kakak-kakaknya. Jadi ya kasian juga udah nikah tapi diintervensi setiap saat ama mertua. Sampai aku ngeliat adikku ini stres apalagi baru lahiran anak pertama. Kasian aku jadinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaampun, Kak ☹️☹️
      Semoga suami dari adikmu segera punya solusi yang terbaik ya untuk masalah keluarganya. Kalau masih tinggal bareng memang rawan ada permasalahan yang berawal dari intervensi pihak lain sih.

      Delete
  6. Tipsnya bermanfaat banget buat yg baru membina rumah tangga.semoga bisa diaplikasikan menurut kebutuhan

    ReplyDelete
  7. Terkadang kita terlihat nggak ada masalah makanya dicurhati banyak masalah. Kita hanya nggak share masalah aja ya kan hehehe.

    Klasih sih menantu vs mertua, tp jd krusial bgt kalau dah menikah apalagi baru tau pas mdah menikah :( better sebelum menikah dah kenala deket dan tau karakter masing2 biar ke depannya enak.

    Masalah keuangan jg klasik tp hampir semua keluarga ada masalah di sini. Karenauang banyak maupun uang sedikit ttp aja jd masalah wkwk.

    Yg belum menikah, ini artikel bermanfaat bgt untuk perenungan & prepare kalian ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, betul banget Kak. Dari ribuan masalah tuh dua ini yang menurutku paling banyak ditemui. Tapi semoga apapun masalahnya tetap akan selalu ada solusi terbaik yah 😊

      Delete
  8. Masalah keuangan memang sensitif ya. dan ngga mudah dilalui tanpa transparansi dan kerjasama. Bagus deh suami bisa punya sudut pandang demikian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul, Kak. Semua hal harus transparan dan jujur kalau udah menikah. Jadi bisa saling bantu mencari solusi ketika ada masalah 😊

      Delete
  9. Aku selalu dihantui tentang permasalahan mertua dan menantu nanti, Mbak. Itu yang membuatku belum siap menikah. Selalu berdoa semoga dapat mertua yang pengertian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's okay, Kak. Menikahlah ketika kamu udah siap banget sama semua risikonya. Semoga kehidupanmu bahagia selalu ya, Kak 😊

      Delete
  10. Masalah pernikahan memang kompleks sekali ya. Jadi saya percaya memilih pasangan hidup adalah yang bisa diajak kerjasama dan tau betul mau dibawa kemana pernikahan kita nantinya. Jika sudah tau tujuan pernikahan, biasanya yang remeh remeh akan cuma jadi bumbu biar pernikahannya lebih seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuu, Kak. Kerjasama adalah kuncinya! 😊 anw, thanks for sharing ya, Kak.

      Delete
  11. Dih bacanya ngeri ngeri sedap. Mertua dan finansial keluarga. Rawan y kalau kita sendiri gak bisa mencoba memahamai atau tidak saling mengkomunikasikan apa yang kita rasa. Kunci keluarga harmonis salah satunya adalah komunikasi yang sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedep banget, Kakkk. Ini baru salah dua masalah yang paling banyak ditemui. Masih ada banyak masalah lain kan pastinya hehe, makanya kerjasama dan komunikasi itu penting banget. Aku setuju sama kamu 😊

      Delete
  12. Alhamdulillah berjodoh dengan keluarga besar suami yang semuanya baik banget. Tapi seperti mbak bilang, namanya hidup sebenarnya ada saja masalah yang timbul, yg penting bagaimana menyikapinya saja agar tetap harmonis ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut senang dengernya, Kak. Hihi, semoga langgeng dan bahagia terus ya 😊

      Delete
  13. Halo kak, aku baca ini jadi nambah pengetahuan karena aku belum nikah jadi bisa mempersiapkan diri juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Kak. Jadi belajar dulu dari yang udah berpengalaman duluan ya hehe

      Delete
  14. kalo ngomongin soal masalah di pernikahan pasti ada 1001 macam ya. karena tak ada pernikahan yang sempurna. yang pasti sebagai istri saya harus belajar banyak, belajar bersyukur dan belajar berpikir positif dalam menyikapi setiap masalah yang ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu, Kak. Aku pun masih banyak belajar. Semangat terus ya kita para istri! 😊

      Delete
  15. Mertua dan keuangan...haha memang menjadi sumber masalah berumah tangga. Bagi saya untuk mertua sebenarnya lebih kepada pendekatan dan komunikasi. Namun tidak semua orang mendapatkan mertua yang baik. Semacam perjuangan bila mendapatkan mertua yang kurang sreg. tapi jangan menyerah, benci bisa sampai kapan? hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Kak. Itu juga prinsip aku sih, jangan sampai punya benci keterusan sama mertua. Karena ya tetep aja gak akan enak kalau gak akur kan, walaupun udah tinggal jauh2an. Makanya sebisa mungkin harus akur.

      Delete
  16. Halo kak.. kalau aku paling nggak mau punya masalah sama orang tua/ mertua. Jadi sebisa mungkin kami tinggal terpisah, jadi lah kami #timngontraksampai tabungancukupbuatbelirumah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, seru banget pasti ya Kak langsung misah dari orangtua. Saya juga maunya gitu tapi belum kesampaian nih sampai sekarang. Banyak pertimbangannya hehe. Semoga segera bisa punya tempat tinggal sendiri 😊

      Delete
  17. namanya juga pernikahan ya mbak
    pasti ada saja cobaan nya
    yang penting tetap pegang komitmen dan berjuang bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul, Kak. Di manapun kita hidup pasti akan tetap ada masalah. Kuncinya adalah gimana cara kita menyelesaikan masalahnya itu, jadi gak dibawa2 terus di pundak sebagai beban :")

      Delete

Thank you for meeting me here! Hope you'll be back soon and let's connect each other 😉